Working Ideology Pancasila Bagian 1 I Smk Muhammadiyah 1 Trenggalek
Working Ideology Pancasila Bagian 1 I Smk Muhammadiyah 1 Trenggalek

Working Ideology Pancasila Bagian 1 I Smk Muhammadiyah 1 Trenggalek


Pendidikan karakter kurikulum 2013 atau yang lebih kita kenal dengan K-13, yang dijalankan oleh seluruh komponem pendidikan di Indonesia adalah bentuk dari penanaman dan pengamalan pancasila. Bahwa begitu pentingnya penanaman pendidikan karakter berbasis berbasis pancasila dalam dunia pendidikan sejak dini, maka dianggap perlu untuk terus dikembangkan dan diterapkan seluas-luasnya untuk kepentingan generasi penerus bangsa Indonesia. Maka, melalui pendidikan-lah, pengamalan karakter berbasis pancasila itu bermula.
Dalam sejarahnya, setelah Rezim Orde Baru digantikan oleh Era Reformasi pada bulan Mei 1998, hampir semua produk dan inovasi Orde Baru dianggap tidak bagus dan dianggap sarat dengan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Semua warisan di masa Soeharto dianggap buruk tanpa memilah terlebih dahulu dan banyak yang dihapuskan begitu saja.
Salah satu yang dihapus adalah Mata Pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) dari sekolah SD, SMP dan SMA sederajat. Padahal Mata Pelajaran ini mengajarkan nilai-nilai moral kepada anak-anak sejak dini, bagaimana saling menghormati satu sama lain, menghargai perbedaan agama, suku, ras, keyakinan, bahasa, adat istiadat dan segala kebiasaan kelompok budaya.
Demikian halnya tentang Penataran Pedoman, Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) dengan polanya, yang menjadi syarat mutlak untuk masuk SD, SMP, SMA sederajat, bahkan Perguruan Tinggi. Dihapuskan begitu saja tanpa dilakukan pengkajian mendalam dan intensif terlebih dahulu. Dan jadilah seperti sekarang ini, banyak yang tidak tahu dan tidak peduli lagi dengan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila. Para pemuda justru mempunyai nilai pancasila yang mulai luntur oleh adanya gempuran ideologi-ideologi yang berkembang, pengaruh globalisasi dan liberasi. Banyak kejadian yang diluar nalar pancasila yang telah dilakukan oleh para pelajar sekolah diantaranya tawuran antar sekolah, tawuran antar kelompok silat, penggunaan dan peredaran narkoba, rendahnya nilai kegotong-royongan sesama, dsb.
Tidak heran jika moral anak-anak bangsa semakin merosot dan semakin tidak karuan. Ditengah-tengah gempuran era globalisasi, dari segi ideologi dan budaya asing yang begitu gencar, kita melihat generasi masa kini rentan untuk diombang-ambingkan karena tidak memiliki dasar berpijak yang kuat pada Dasar Negara Pancasila. Kita contohkan saja disekolah, rendahnya rasa toleransi diantara siswa, ketidaksopanan antara siswa dan guru, rendahnya sikap yang mencerminkan nilai keagamaan pada siswa.
Bahaya radikalisme yang ingin menggantikan Dasar Negara Pancasila menjadi Khilafah misalnya, bahkan sudah menyusup masuk hingga ke sekolah-sekolah dan kampus-kampus. Demikian juga beberapa guru dan dosen yang diharapkan menjadi penyambung lidah pendiri negara ini untuk menyampaikan ideologi Pancasila kepada siswa dan mahasiswa ternyata sudah berubah menjadi penghianat bangsa.
Seperti harapan founding father dan proklamator  negara kita: "... Namanya bukan Panca Dharma, tetapi saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa - namanya ialah Pancasila. Sila artinya asas atau dasar, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia, kekal dan abadi." (Ir. Soekarno, Presiden pertama NKRI).

Untuk itu sangat perlu di sekolah SMk Muhammadiyah 1 Trenggalek untuk mengajarkan, dan mengamalkan kembali nilai-nilai Pancasila kepada anak-anak di sekolah sejak dini, seperti yang telah dijabarkan dalam butir-butir pancasila.

Your Reactions:

Admin
Ini adalah situs resmi SMK Muhammadiyah 1 Kabupaten Trenggalek. Kami senang dapat hadir di tengah anda, memberikan informasi dan edukasi. Dari Persyarikatan untuk Indonesia.