Kolom Gerakan Literasi : Penerapan Nilai Pancasila Dalam Lingkungan Sekolah I Laura Yensie I SMK Muhammadiyah 1 Trenggalek
Kolom Gerakan Literasi : Penerapan Nilai Pancasila Dalam Lingkungan Sekolah I Laura Yensie I SMK Muhammadiyah 1 Trenggalek

Kolom Gerakan Literasi : Penerapan Nilai Pancasila Dalam Lingkungan Sekolah I Laura Yensie I SMK Muhammadiyah 1 Trenggalek






Sejak indonesia merdeka, pancasila merupakan ideologi final yang menjadi dasar negara dan falsafah hidup bangsa indonesia. Pancasila tidak bisa ditawar-tawar untuk digantikan dan dipasang-pasangkan dengan ideologi lain seperti sosialisme, komunisme, khilafahisme, dan ideologi-ideologi lain dalam perubahan hidup di Era globalisasi. Justru sebaliknya, pancasila sebagai modal awal untuk dipedomani dalam hidup dalam dunia globalisasi untuk menangkal gerakan-gerakan yang mengandung radikalisme dan liberalisme.
Kami sepakat bahwa, pengamalan pancasila dalam semua komponem kehidupan, diantaranya individu, keluarga, sosial, masyarakat, bangsa dan negara, merupakan konsep “work ideology”. Nah, Indonesia merupakan daerah yang mempunyai teritorial dan letak geografis yang luas dan komplek. Indonesia merupakan negara kepualauan, laut terluas, suku agama terbanyak dan budaya nenek moyang yang masih melekat dalam suatu kelompok suku di Indonesia.

Indonesia adalah negara hukum yang mewajibkan warga negaranya memilih satu dari 6 agama resmi di Indonesia, Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu. Walau di naungi Pancasila namun kerukunan antar umat beragama di Indonesia dinilai masih banyak menyisakan masalah.  Kasus-kasus yang muncul terkait masalah kerukunan beragama pun belum bisa terhapus secara tuntas.

Hal ini mengindikasikan bahwa pemahaman masyarakat tentang kerukunan atar umat beragama perlu ditinjau ulang. Dikarenakan banyaknya ditemukan ketidak adanya kerukunan antar agama, yang menjadikan adanya saling permusuhan, saling merasa ketidak adilan, dan saling menista agama. Agama merupakan salah satu hak yang paling asasi diantara hak-hak asasi manusia, karena kebebasan beragama itu langsung bersumber kepada martabat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Oleh kerenanya, agama tidak dapat dipaksakan atau dalam menganut suatu agama tertentu itu tidak dapat dipaksakan kepada dan oleh seseorang. Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa itu berdasarkan atas keyakinan, karena menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan yang dipercayai dan diyakininya.

Untuk itu, sikap toleransi perlu tumbuh dalam diri setiap warga Negara Indonesia, karena sikap toleransi adalah suatu sikap atau perilaku manusia yang tidak menyimpang dari aturan, di mana seseorang menghargai atau menghormati setiap tindakan yang orang lain lakukan. Sikap toleransi sangat perlu dikembangkan karena manusai adalah makhluk sosial dan akan menciptakan adanya kerukunan hidup.

Menurut data Badan pusat Statistik tahun 2010,  suku di Indonesia sebanyak 1.340 suku bangsa. Suku jawa adalah kelompok terbedar di Indonesia dengan jumlah total mencapai 41 % dari jumlah penduduk indonesia. Ada kelompok lain selain kelompok suku, diantaranya kelompok pada masa hindia belanda, suku bangsa pendatang, dan kelompok-kelompok kecil lainnya. Agama di indonesia ada enam, yaitu  islam dengan jumlah 87,18 %, kristen dengan jumlah 6,96 %, katolik 2,9 %, hindu 1,69%, buddha 0,72 dan kong hu hu 0,13 %. Jumlah bahasa di Indonesia yang membentang dari sabang sampai merauke adalah 1211 bahasa yang diantaranya 1158 adalah bahasa daerah.

Untuk mengelola tata sosial yang komplek, maka diperlukan adanya pancasila sebagai pegangan setiap manusia di Indonesia. Lantas bagaimana menerapkan pancasila dalam ranah agama, politik, budaya, pertahanan dan keamanan di Indonesia ? disiniliah sangat diperlukan pemahaman yang merata terhadap setiap butir pancasila yang bisa diilhami secara nyata. Pancasila tidak hanya cukup dihafalkan, namun yang lebih penting bagaimana implementasinya dalam kehidupan sehari hari. Baik dikalangan masyarakat umum ataupun di kalangan instansi Sekolah dari SD, SMP, SMA/SMK. Saat ini banyak pihak yang seakan akan lupa akan Pancasila dalam praktek kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Kondisi ini tentu memprihatinkan.

Menurut pandangan dari seorang cendekiawan muda yang dimiliki Indonesia dan juga mantan ketua BPIP (Badan Penbinaan Ideologi Pancasila), Yudi Latief, mengungkapan bahwa dia khawatir jika nilai-nilai pancasila akan semakin pudar dikalangan generasi muda, termasuk para mahasiswa. Hal itu disebabkan atas adanya pertarungan pemahaman dikalangan mahasiswa. Untuk generasi muda, perlu diberikan pembinaan, penyemaian terhadap pancasila.

Slogan-slogan yang mengingatkan eksistensi Pancasila terkadang hanya berhenti pada pernyataan verbal. Dalam prakteknya jauh dari nilai nilai pengamalan Pancasila. Saat ini praktek pengamalan Pancasila yang dilaksanakan di SMK Muhammadiyah 1 Trenggalek sudah banyak diterapkan dan diimplementasikan dalam manajemen sekolah, kurikulum sekolah hingga proses belajar mengajar. Penerapan yang dilakukan di sekolah ini adalah mulai dari sitem manajemen mutu dan kurikulum telah mempedomani pada nilai-nilai karakter berbasis pancasila. Nilai karakter berbasis pancasila yang dimaksud adalah nilai karakter berbasis pancasila pancasila yang dijadikan norma dalam menerapkan dilingkungan sekolah SMk Muhammadiyah1  Trenggalek.

Pendidikan karakter berbasis pancasila merupakan komponen yang memiliki peran yang strategis bagi bangsa Indonesia dalam mewujudkan tujuan warga negara yang adil dan sejahtera. Salah satu tujuan bangsa Indonesia yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 pada alinia ke empat adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Untuk mewujudkan hal tersebut dibutuhkan usaha yang terencana dan terprogram dengan jelas dalam agenda pemerintahan yang berupa penyelenggaraan pendidikan. Yang pasti adalah pendidikan yang berkarakter berbasis pancasila sesuai dengan konsep ideologi bangsa Indonesia.

Tujuan pendidikan Negara Indonesia yang tertuang dalam Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan diriya, masyarakat, bangsa dan negara. Agar kegiatan pendidikan tersebut terencana dengan baik maka dibutuhkan kurikulum pendidikan.

Sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan yang diberikan tugas untuk mewujdkan tujuan pendidikan nasional harus menjalankan perannya dengan baik. Dalam menjalankan peran sebagai lembaga pendidikan ini, sekolah harus dikelola dengan baik agar dapat mewujudkan tujuan pendidikan yang telah dirumuskan dengan optimal. Pengelolaan sekolah yang tidak profesional dapat menghambat proses pendidikan yang sedang berlangsung dan dapat menghambat langkah sekolah dalam menjalankan fungsinya sebagai lembaga pendidian formal.

Agar pengelolaan sekolah tersebut dapat berjalan dengan baik, dibutuhkan renccana strategis sebagai suatu upaya/cara untuk mengendalikan organisasi (sekolah) secara efektif dan efisien, sampai kepada kepada implementasi garis terdepan, sedemikian rupa sehingga tujuan dan sasarannya tercapai. Perencanaan strategis merupakan landasan bagi sekolah dalam menjalankan proses pendidikan. Komponen dalam perencanaan pengamalan pancasila didalam sekolah SMk Muhammadiyah 1 Trenggalek yang strategis paling tidak terdiri penerapan nilai berketuhanan (sila pertama), kepeloporan dalam sosial (sila kedua), gotomg royong dan bersatu (sila ketiga), musyawarah mufakat (sila keempat) kejujuran, kedisiplinan, kemandirian, keterbukaan, tanggung jawab, kebersihan (cerminan sila kelima). Perumusan terhadap penerapan nilai berketuhanan, kepeloporan, kejujuran, kedisiplinan, kemandirian, keterbukaan, tanggung jawab, kebersihan tersebut harus dilakukan pengelola sekolah, warga sekolah secara umum agar sekolah memiliki nilai karakter berbasis pancasila.

Pentingnya Pengamalan Pancasila Di Sekolah
Pendidikan karakter kurikulum 2013 atau yang lebih kita kenal dengan K-13, yang dijalankan oleh seluruh komponem pendidikan di Indonesia adalah bentuk dari penanaman dan pengamalan pancasila. Bahwa begitu pentingnya penanaman pendidikan karakter berbasis berbasis pancasila dalam dunia pendidikan sejak dini, maka dianggap perlu untuk terus dikembangkan dan diterapkan seluas-luasnya untuk kepentingan generasi penerus bangsa Indonesia. Maka, melalui pendidikan-lah, pengamalan karakter berbasis pancasila itu bermula.
Dalam sejarahnya, setelah Rezim Orde Baru digantikan oleh Era Reformasi pada bulan Mei 1998, hampir semua produk dan inovasi Orde Baru dianggap tidak bagus dan dianggap sarat dengan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Semua warisan di masa Soeharto dianggap buruk tanpa memilah terlebih dahulu dan banyak yang dihapuskan begitu saja.
Salah satu yang dihapus adalah Mata Pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) dari sekolah SD, SMP dan SMA sederajat. Padahal Mata Pelajaran ini mengajarkan nilai-nilai moral kepada anak-anak sejak dini, bagaimana saling menghormati satu sama lain, menghargai perbedaan agama, suku, ras, keyakinan, bahasa, adat istiadat dan segala kebiasaan kelompok budaya.
Demikian halnya tentang Penataran Pedoman, Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) dengan polanya, yang menjadi syarat mutlak untuk masuk SD, SMP, SMA sederajat, bahkan Perguruan Tinggi. Dihapuskan begitu saja tanpa dilakukan pengkajian mendalam dan intensif terlebih dahulu. Dan jadilah seperti sekarang ini, banyak yang tidak tahu dan tidak peduli lagi dengan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila. Para pemuda justru mempunyai nilai pancasila yang mulai luntur oleh adanya gempuran ideologi-ideologi yang berkembang, pengaruh globalisasi dan liberasi. Banyak kejadian yang diluar nalar pancasila yang telah dilakukan oleh para pelajar sekolah diantaranya tawuran antar sekolah, tawuran antar kelompok silat, penggunaan dan peredaran narkoba, rendahnya nilai kegotong-royongan sesama, dsb.
Tidak heran jika moral anak-anak bangsa semakin merosot dan semakin tidak karuan. Ditengah-tengah gempuran era globalisasi, dari segi ideologi dan budaya asing yang begitu gencar, kita melihat generasi masa kini rentan untuk diombang-ambingkan karena tidak memiliki dasar berpijak yang kuat pada Dasar Negara Pancasila. Kita contohkan saja disekolah, rendahnya rasa toleransi diantara siswa, ketidaksopanan antara siswa dan guru, rendahnya sikap yang mencerminkan nilai keagamaan pada siswa. Bahaya radikalisme yang ingin menggantikan Dasar Negara Pancasila menjadi Khilafah misalnya, bahkan sudah menyusup masuk hingga ke sekolah-sekolah dan kampus-kampus. Demikian juga beberapa guru dan dosen yang diharapkan menjadi penyambung lidah pendiri negara ini untuk menyampaikan ideologi Pancasila kepada siswa dan mahasiswa ternyata sudah berubah menjadi penghianat bangsa. Seperti harapan founding father dan proklamator  negara kita: "... Namanya bukan Panca Dharma, tetapi saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa - namanya ialah Pancasila. Sila artinya asas atau dasar, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia, kekal dan abadi." (Ir. Soekarno, Presiden pertama NKRI).
Untuk itu sangat perlu di sekolah SMk Muhammadiyah 1 Trenggalek untuk mengajarkan, dan mengamalkan kembali nilai-nilai Pancasila kepada anak-anak di sekolah sejak dini, seperti yang telah dijabarkan dalam butir-butir pancasila.
Penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kegiatan intra-kurikuler
Kegiatan Intrakuriluler adalah kegiatan utama persekolah yang dilakukan dengan menggunakan alokasi waktu yang telah ditentukan dalam struktur program. Kegiatan ini dilakukan guru dan peserta didik dalam jam-jam pelajaran setiap hari. Kegiatan intrakurikuler ini dilakukan untuk mencapai tujuan minimal setiap mata pelajaran/ bidang studi yang tergolong inti maupun khusus.

Pendidikan adalah suatu usaha yang sadar dan sistematis dalam mengembangkan potensi siswa (Puskur, 2010: 4). Pengertian karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Kebajikan terdiri atas sejumlah nilai, moral, dan norma, seperti jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, dan hormat kepada orang lain (Puskur, 2010 : 5). Bila dua pengertian tadi digabung, akan menjadi pendidikan yang mengkarakterkan siswa. Lebih lanjut, pengertian pendidikan karakter adalah pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada diri siswa sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan warga negara yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif (Puskur, 2010 : 4).

Pengertian pendidikan karakter memiliki dua kata kunci. Kata kunci yang pertama adalah isi pendidikan karakter. Isi berkaitan dengan “apa yang akan dilaksanakan” dalam pendidikan karakter berbasis pancasila. Isi pendidikan karakter meliputi nilai nilai-nilai yang berasal dari pandangan hidup atau ideologi bangsa Indonesia, agama, budaya, dan nilai-nilai yang terumuskan dalam tujuan pendidikan nasional. Kata kunci yang kedua adalah pelaksanaan pendidikan karakter.

Untuk dapat melaksanakan pendidikan karakter berbasis pancasila, perlu diketahui fungsi dan tujuan pendidikan karakter berbasis pancasila. Adapun fungsi  pendidikan karakter berbasis pancasila adalah : pertama, Pengembangan potensi siswa untuk menjadi pribadi berperilaku baik; ini bagi siswa yang telah memiliki sikap dan perilaku yang mencerminkan budaya dan karakter berbasis pancasila bangsa; kedua, Perbaikan: memperkuat kiprah pendidikan nasional untuk bertanggung jawab dalam pengembangan potensi siswa yang lebih bermartabat; ketiga, Penyaring: untuk menyaring budaya bangsa sendiri dan budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter berbasis pancasila bangsa yang bermartabat.

Sedangkan tujuan pendidikan karakter berbasis pancasila adalah: pertama, mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif siswa sebagai manusia dan warga negara yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter berbasis pancasila bangsa; kedua, mengembangkan kebiasaan dan perilaku siswa yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius; ketiga, menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab siswa sebagai generasi penerus bangsa; keempat, mengembangkan kemampuan siswa menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan; dan kelima, mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa Kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan (dignity).

Nilai-Nilai Pendidikan Karakter berbasis pancasila dalam intrakurikuler
Nilai-nilai pendidikan karakter berbasis pancasila perlu dikembangkan di sekolah. nilai ini berlaku universal, karena dapat digunakan oleh seluruh siswa di Indonesia tanpa adanya diskriminasi terhadap pihak-pihak tertentu. Nilai-nilai ini bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:
a. Agama: masyarakat Indonesia adalah masyarakat beragama. Oleh karena itu, kehidupan individu, masyarakat, dan bangsa selalu didasari pada ajaran agama dan kepercayaannya. Secara politis, kehidupan kenegaraan pun didasari pada nilai-nilai yang berasal dari agama. Atas dasar pertimbangan itu, maka nilai-nilai pendidikan budaya dan karakter berbasis pancasila bangsa harus didasarkan pada nilai-nilai dan kaidah yang berasal dari agama.
a.    Pancasila: negara kesatuan Republik Indonesia ditegakkan atas prinsip-prinsip kehidupan Kebangsaan dan kenegaraan yang disebut Pancasila. Pancasila terdapat pada Pembukaan UUD 1945 dan dijabarkan lebih lanjut dalam pasal-pasal yang terdapat dalam UUD 1945. Artinya, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila menjadi nilai-nilai yang mengatur kehidupan politik, hukum, ekonomi, kemasyarakatan, budaya, dan seni. Pendidikan budaya dan karakter berbasis pancasila bangsa bertujuan mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang lebih baik, yaitu warga negara yang memiliki kemampuan, kemauan, dan menerapkan nilai nilai Pancasila dalam kehidupannya sebagai warga negara.

Sila 1 - 5 dalam Pancasila merupakan sari dari seluruh nilai dan norma kehidupan yang berkembang dalam sejarah bangsa dan negara Indonesia. Meski Pancasila baru dirumuskan secara resmi oleh ir. Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945, namun Pancasila telah lama hidup dalam diri setiap bangsa Indonesia. Oleh karena itu, kita berkewajiban untuk melestarikan dan mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu tempat kita dapat mengamalkan nilail-nilai Pancasila adalah sekolah SMK Muhammadiyah 1 Trenggalek.
Dengan diberlakukannya penerapan dan pengamalan nilai-nilai pancasila dalam manajerial sekolah, terutama pada kegiatan intrakuikuler, sekolah mendapatkan banyak manfaat dan keunggulan, diantaranya :
a.    Dengan adanya integrasi nilai-nilai pancasila dalam manajemen kurikulum, diantaranya memasukkan butir-butir sila pancasila dalam keseluruhan proses pembelajaran, yang dimasukkan dalam RPP (rencana pelaksanaan pembelajaran), maka tercipta karakter yang bersinergi dengan penguatan sila-sila. Diantaranya tercipta pembelajaran yang toleran, bekerjasama dalam kelompok, mengutarakan pendapat dengan baik, sopan dan patuh terhadap guru.
b.    Terbangunnya watak dan perilaku siswa untuk tepat waktu dalam melaksanakan peribadatan keagamaan, kegiatan keagamaan terimplikasikan tidak hanya berhubungan dengan Tuhan, akan tetapi lebih luas termanifestasikan dalam kehidupan sosial dan alam semesta.
c.    Terbinanya rasa cinta terhadap Negara Kesatuan republik Indonesia (NKRI), cinta damai dengan sesama warga Indonesia tanpa adanya disparitas SARA, sehingga menciptakan nuansa kesejahteraan tanpa sekat.

Penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kegiatan ekstra-kurikuler
Pendidikan merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam kehidupan seseorang karena melalui pendidikan seseorang dapat meningkatkan kecerdasan, keterampilan, mengembangkan potensi diri dan dapat membentuk pribadi yang bertanggung jawab, cerdas dan kreatif. Kita membutuhkan habitus baru untuk mengelola pendidikan jika tidak mau melihat kehancuran bangsa ini 1-20 tahun yang akan datang. Kegiatan ekstrakurikuler adalah program  yang dipilih peserta didik berdasarkan bakat, minat, serta keunikannya meraih perestasi yang bermakna bagi diri dan masa depannya.

Karakter bisa digambarkan sebagai sifat manusia pada umumnya dimana manusia mempunyai banyak sifat yang tergantung dari faktor kehidupannya sendiri. Kegiatan Ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah/ madrasah. Melalui kegiatan olahraga diharapkan siswa dapat sehat, mempunyai daya tangkal, daya hayat terhadap Pekat, Narkoba dan obat terlarang.

Dalam pelaksanaan kegiatan ekstra kurikuler siswa diarahkan untuk memilih salah satu cabang olahraga yang sesuai dengan minat, bakat dan kemampuan siswa. Pendidikan karakter di sekolah sangat diperlukan, walaupun dasar dari pendidikan karakter adalah di dalam keluarga. Kalau seorang anak mendapat pendidikan karakter yang baik dari keluarganya, anak tersebut akan berkarakter baik selanjutnya. Jadi, pendidikan karakter atau budi pekerti plus adalah suatu yang urgen untuk dilakukan. Kalau kita peduli untuk meningkatkan mutu lulusan SD, SMP dan SMU, maka tanpa pendidikan karakter adalah usaha yang sia-sia. Mahatma Gandhi memperingatkan tentang salah satu tujuh dosa fatal, yaitu “education without character” (pendidikan tanpa karakter).
Dengan diberlakukannya penerapan dan pengamalan nilai-nilai pancasila dalam manajerial sekolah, terutama pada kegiatan ekstrakuikuler, sekolah mendapatkan banyak manfaat dan keunggulan, diantaranya :
a.    Budaya kepemimpinan yang diperoleh dari kegiatan kepramukaan / Hizbul Wathan (HW) menjadikan basis karakter yang kuat untuk siswa.
b.    Potensi dan kemampuan siswa mampu diekspresikan sesuai dengan keinginan siswa.
c.    Pendidikan tentang berorganisasi dan keterbukaan dalam berpendapat dicerminkan dengan keikutsertaan siswa dalam musyawarah untuk mufakat dalam berbagai kegiatan diantaranya pemilihan ketua dan rapat-rapat MPK, IPM dan kelas.
d.    Pendidikan tentang keterbukaan informasi publik yang tercermin dalam kejurnalistik-an dan karya tulis ilmiah.
e.    Siswa mampu mengetahui dan menerapkan serta mengeksplorasi budaya Trenggalek yang tercermin dalam kesenia tari

Penerapan nilai Pancasila dalam lingkungan sekolah dan masyarakat
Dengan diberlakukannya penerapan dan pengamalan nilai-nilai pancasila dalam manajerial sekolah, terutama pada kegiatan dalam lingkungan sekolah dan masyarakat, sekolah mendapatkan banyak manfaat dan keunggulan, diantaranya :
a.    Mempererat sifat kebersamaan yang membudaya dalam lingkungan sekolah dan masyarakat untuk membentuk lingkungan yang bergotong-royong. Maka hubungan didalam sekolah akan saling memiliki dan mempunyai rasa saling tenggang-rasa. Hubungan antara sekolah dan masyarakat sekitar juga akan berdampak baik, saling membantu dan tolong-menolong, terlebih utama menimbulkan sistem check an balance.
b.    Terciptanya solidaritas yang tinggi dalam keluarga sekolah, suasana kekeluargaan sebagai penerapan sila persatuan indonesia. Solidaritas dalam lingkungan sekolah akan berimbas pada solidaritas dalam lingkungan masyarakat yang merupakan bagian dalam keluarga besar.
c.    Terciptanya rasa aman. Penting sekiranya bahwa keamanan tercipta tidak bisa dengan tanpa kebersamaan dan sinergi. Bilamana hubungan emosional sudah terbangun dari dalam (internal sekolah) dan diluar (masyarakat), maka budaya saling memberi keamanan untuk semua warga akan tercipta dengan baik.

* Laura Yensie, Siswa SMK Muhammadiyah 1 Trenggalek


Your Reactions:

Admin
Ini adalah situs resmi SMK Muhammadiyah 1 Kabupaten Trenggalek. Kami senang dapat hadir di tengah anda, memberikan informasi dan edukasi. Dari Persyarikatan untuk Indonesia.